Green Chemistry Di Unesa

23 Feb 2011
Aktivitas industri, kesehatan, dan pertanian yang telah berlangsung berabad-abad lamanya telah menghasilkan sejumlah besar bahan kimia berbahaya dan menyebabkan polusi lingkungan. Saat ini para ahli kimia mulai menyadari perlunya mengangkat paradigma kimia yang dapat memªperbaiki lingkungan. Kesadaran itulah yang kemuªdian disebut "Kimia Hijau" (green chemistry). Seminar Nasional bertajuk "Peranan Hasil-Hasil Penelitian Bidang Kimia dan Pendidikan Kimia Sebagai Wahana Green Chemistry" mengulas lebih dalam tentang green chemistry. Seminar yang bertempat di ruang sidang FMIPA ini (19/02) menghadirkan narasumber di bidang kimia diantaranya Prof. Dr. Liliasari, M.Pd., (UPI) dan Prof. Dr. Sri Juana Santosa, M.Eng.,(UGM).

Prinsip kimia-hijau berawal dari keinginan untuk meminimalkan sisa kegiatan (limbah) dan diharapkan dapat didaur ulang dan berdaya guna. Penghilirannya dalam rangka menopang pembangunan industri yang berkelanjutan. Syarat pembangunan berkelanjutªan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbanªkan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya sendiri. Alasan utama karena hampir semua aspek dalam kehidupan seharihari berkaitan dengan produk kimia. Perkembangan produk kimia telah menimbulkan masalah baru bagi lingkungan dan kesehatan bahkan efek-efek lain yang belum diketahui. Dr. Sari Edi Cahyaningrum M.Si mengungkap harapannya supaya seminar kali ini dapat membuahkan hasil berupa kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian alam dengan kimia.

Penggunaan virtual laboratorium ternyata memiliki andil besar dalam program green chemistry. Virtual laboratorium adalah laboratorium komputasi yang dirancang agar siswa mampu melakukan praktikum walau tidak secara langsung. Penggunaan ini dimaksudkan untuk meminimalisir kesalahan dalam laboratorium dalam hal penggunaan bahan kimia maupun hasil praktikum atau penelitian. Hal ini juga mampu menghemat bahan ketika praktikum dengan maminimalisir percobaan yang dilakukan. Melihat fakta yang membuktikan bahwa penyumbang limbah laboratorium terbesar adalah sekolah-sekolah SMA.

Gerakan green chemistry sudah mulai digalalakkan di Indonesia. Terlebih setelah melihat dampak yang diakibatkan oleh hasil-hasil kimia yang membuat para ilmuwan sadar pentingnya gerakan Green Chemistry. Green Chemistry ini juga menjawab permasalahan mengenai kekurangan energi, sumber daya alam yang kian menipis, masalah polusi yang ada saat ini dan banyak permasalahan-permasalahan pokok lainnya.

    Mengingat pentingnya Green chemistry yang berpotensi dalam melestarikan lingkungan maka gerakan ini perlu didukung semua pihak terutama kalangan industri dan pemerintah. Green chemistry memang tidak akan menyelesaikan ’semua’ masalah polusi, energi, dan pangan namun peranannya mampu memberikan kontribusi yang sangat besar dan fundamental terhadap kelestarian hidup di planet bumi yang kita cintai. [Masruuhah_Humas]

Sumber:www.unesa.ac.id