Unesa.ac.id., SURABAYA—Tim mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menghadirkan inovasi pangan berkelanjutan melalui produk bertajuk ‘Soy Me Up’, minuman sari kedelai dengan varian rasa modern yang dipadukan dengan cookies zero waste dari bahan kedelai.
Inovasi tersebut dikembangkan dalam Program Bootcamp Kewirausahaan Unesa 2025 dan dipamerkan dalam gelar karya ‘Student Impact Venture Showcase 2025’ di Rektorat Unesa, Kampus II Lidah Wetan, awal Desember 2025 lalu.
Tim Soy Me Up diketuai Salsabilla Chandraningtyas, mahasiswa S-1 Bisnis Digital angkatan 2023. Ia berkolaborasi dengan Erika Dewi Julianti, Sherina Azkyah Putri, dan Heni Widyaningrum dari Prodi S-1 Ekonomi; Melynda Nur Laila dan Shobi Batur Rohmah dari Prodi S-1 Akuntansi; serta Muhammad Ferdianto, Wiseto Jiati, dan Rifda Salsabila dari Prodi S-1 Ilmu Administrasi Negara.
Salsabilla menjelaskan Soy Me Up lahir dari kegelisahan tim melihat produk sari kedelai yang masih kerap dipersepsikan sebagai minuman tradisional dengan cita rasa terbatas, sehingga kurang diminati generasi muda. Padahal, di sisi lain, tren konsumsi minuman sehat berbasis nabati terus meningkat.
“Berangkat dari pengalaman kami saat magang wirausaha di UMKM Sari Kedelai Pak Rustam, kami melihat potensi besar pengembangan sari kedelai agar tampil lebih modern, baik dari segi rasa, konsep, maupun keberlanjutannya,” terangnya.
Keunikan Soy Me Up terletak pada inovasi varian rasa kekinian seperti taro, matcha, hingga red velvet yang disesuaikan dengan favorit rasa generasi saat ini dan tentu disesuaikan lagi dengan karakter sari kedelainya.
“Proses pengembangannya dilakukan melalui eksplorasi dan uji coba berulang untuk menjaga keseimbangan rasa, aroma, dan kualitas, tanpa menghilangkan cita rasa khas kedelai,” imbuh Salsabilla.
Tidak hanya berhenti pada produk minuman, tim Soy Me Up juga mengusung konsep zero waste dengan mengolah ampas kedelai sisa produksi menjadi cookies bernilai tambah. Ampas kedelai dikeringkan, diolah, lalu dipadukan dengan bahan pangan lain yang aman dikonsumsi sehingga menghasilkan makanan ringan yang enak dan sehat.
“Konsep zero waste ini kami maknai sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan. Limbah produksi tidak langsung dibuang, tetapi diolah kembali agar memiliki nilai ekonomi,” jelasnya.
Lebih lanjut, inovasi ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 12 tentang Responsible Consumption and Production melalui pola produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Juga mendukung SDGs poin 8 tentang Decent Work and Economic Growth dengan mendorong tumbuhnya kewirausahaan mahasiswa.
Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi rasa dan kualitas produk di berbagai varian. Selain itu, pengolahan ampas kedelai menjadi cookies yang tetap layak diminati juga membutuhkan banyak percobaan.
Kendati demikian, tim yang dinahkodai Salsabilla ini menjadikan tantangan tersebut menjadi proses pembelajaran yang berharga dan terus berinovasi agar terus diminati masyarakat.
Salah satu pembeli, Azhar, Duta Mobilitas Akademik Unesa, mengungkapkan kesannya dengan konsep yang diusung tim ini. “Rasanya enak dan beda dari sari kedelai biasanya. Varian rasanya beragam dan cookies dari ampas kedelainya juga unik, jadi tidak ada yang terbuang,” tuturnya.
Ke depan, tim berharap Soy Me Up dapat terus dikembangkan menjadi usaha berkelanjutan dengan memperkuat branding, memperluas pasar, serta menghadirkan produk turunan lain berbasis kedelai.
“Kami ingin menghadirkan inovasi yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat,” tutup ketua tim. ][
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Mahasiswa Unesa Olah Ampas Kedelai Jadi Cookies dan Inovasi Minuman Kekinian
27 December 2025

