Unesa.ac.id. SURABAYA—Keterbatasan ekonomi pada awal masa kuliah tidak menjadi penghalang bagi Nadia Amru Khalifa untuk mengukir prestasi. Mahasiswa asal Tulungagung ini berhasil mengakhiri masa studinya sebagai wisudawan terbaik Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97, pada 25 Juni 2026 lalu.
Nadia merupakan putri dari pasangan Hanief Su’aidy, seorang pensiunan guru ASN di SMP Negeri 1 Sendang, dan Siti Sulikah, seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja sebagai petani. Latar belakang keluarga yang sederhana tersebut membentuk karakter Nadia menjadi pribadi yang tangguh.
Kendati awalnya bercita-cita melanjutkan studi di bidang kesehatan, keterbatasan biaya membuatnya beralih memilih Program Studi S-1 Pendidikan Seni Rupa Unesa, modal kegemarannya menggambar sejak kecil.
Perjalanan akademiknya di Seni Rupa tidak langsung berjalan mulus. Nadia mengaku sempat merasa salah jurusan dan beberapa kali mengeluh pada tahun pertama perkuliahan.
Namun, sudut pandangnya berubah setelah mendapatkan motivasi dari dosen dalam sebuah kuliah tamu. Ungkapan bahasa Jawa, “lek wis kadung teles, teles kebes pisan” (kalau sudah telanjur basah, basah sekalian), menjadi pemantik bagi Nadia untuk berkomitmen secara total pada pilihan studinya.
Keputusan untuk fokus tersebut menjadi titik balik penting baginya. Ia kemudian dikenal sebagai mahasiswa yang disiplin, konsisten dalam capaian akademik, dan tidak pernah mengulang mata kuliah.
Ketertarikannya terhadap budaya lokal kemudian diwujudkan melalui skripsi berjudul "Pengenalan Motif Batik Tulungagung melalui Popscrap Book oleh Siswa Kelas X-AK 2 SMK Negeri 1 Bandung".
Melalui media buku saku interaktif tersebut, ia berupaya mengenalkan ragam motif batik khas daerahnya kepada generasi muda melalui pendekatan dunia pendidikan.
Selama masa perkuliahan, Nadia juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan seni dan pendidikan untuk memperluas pengalaman. Karya-karyanya tercatat pernah dipamerkan dalam sejumlah ajang, seperti Panik Art Fest 2023, Panik Art Fest 2024, dan pameran Duduk Manis 2025.
Selain sebagai peserta, ia terlibat aktif dalam kepanitiaan pameran seni internasional Sengkuni serta berbagai agenda seni rupa di lingkungan kampus.
Di bidang pendidikan, Nadia lolos dalam Program Kampus Mengajar Angkatan 8 dan ditugaskan di SD Negeri 1 Wates. Pengalaman mengajar ini diakuinya memberikan pelajaran berharga mengenai esensi seorang pendidik dalam membangun karakter siswa, bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran.
Selain kegiatan akademik dan organisasi, ia juga sempat memanfaatkan waktu luangnya dengan bekerja sebagai pemandu siaran langsung (live streamer) di sebuah toko dekorasi ruangan untuk mengasah kemampuan komunikasi publiknya.
Setelah resmi menyandang gelar sarjana, Nadia berencana melanjutkan perjalanannya dengan mengejar cita-cita menjadi guru Seni Budaya, mengikuti jejak sang ayah. Selain mengajar, ia juga berencana mengembangkan usaha kreatif secara mandiri untuk membantu perekonomian sekaligus membahagiakan kedua orang tuanya. ][
***
Reporter: Azhar (FBS)
Editor: @zam*
Dokumentasi: Nadia Amru Khalifa
Nadia Amru Khalifa, Wisudawan Terbaik FBS Ciptakan Media Popscrapbook untuk Kenalkan Ragam Motif Batik Tulungagung
02 July 2026

