Unesa.ac.id. SURABAYA—Badan Pendidikan Profesi Guru (BPPG) Universitas Negeri Surabaya (Unesa)menyelenggarakan Diklat Orientasi Akademik PPG Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026 pada Jumat, 30 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung PPG Kampus II Lidah Wetan ini diikuti oleh 614 peserta, mengukuhkan posisi Unesa sebagai salah satu dari tiga besar LPTK dengan kuota nasional terbanyak.
Kepala BPPG Unesa, Fatkur Rohman Kafrawi, dalam laporannya menjelaskan bahwa para mahasiswa yang hadir di "Kampus Rumah Para Juara" ini merupakan calon guru pilihan yang telah lolos seleksi ketat di tingkat nasional. Selama dua semester ke depan, mereka akan menjalani pendidikan profesi yang dirancang secara strategis untuk menjawab tantangan dunia pendidikan.
Guna membentuk pendidik yang tangguh, Unesa menerapkan serangkaian program penguatan karakter, mulai dari pembiasaan kedisiplinan hingga penguatan kebugaran jasmani. Selain itu, Unesa memberikan pembekalan khusus mengenai pendidikan inklusi dan pengenalan mata kuliah baru, Growth Mindset.
"Mahasiswa dibekali pola pikir bertumbuh agar adaptif dan berorientasi solusi. Kami juga memperkuat pemahaman tentang disabilitas agar calon guru mampu menangani setiap peserta didik dengan pendekatan yang tepat," ujarnya.
Sujarwanto, Kepala Badan Pengelola Labschool yang mewakili Rektor Unesa Nurhasan atau Cak Hasan menekankan bahwa Program PPG adalah ikhtiar besar pemerintah untuk menyiapkan SDM pendidikan yang profesional dan berkarakter menuju Indonesia Emas 2045.
Sesi pemaparan materi diawali oleh Tri Endang Kustianingsih, Kabid GTK Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Ia mengingatkan bahwa di era kecerdasan buatan (AI), guru harus memiliki kemampuan untuk memahami emosi dan karakter peserta didik.
"Guru adalah pengelola manusia, bukan sekadar pengolah data. Profesionalisme harus tercermin dari kedisiplinan, komunikasi, serta pemanfaatan teknologi digital secara bijak," tegasnya.
Selanjutnya, Sekretaris BPPG Unesa, Faridha Nurhayati, bersama tim memaparkan struktur kurikulum dan mekanisme PPL, baik di dalam maupun luar negeri.
Pengelolaan pembelajaran digital melalui Learning Management System (LMS) juga menjadi poin penting yang disampaikan Agoes Primono Sardjono.
Sebagai penutup, guru besar Unesa, Raden Roro Nanik Setyowati memberikan refleksi mendalam mengenai tantangan krisis karakter di sekolah, seperti intoleransi dan lemahnya etika digital. Ia menegaskan bahwa guru adalah agen perubahan yang harus membentuk manusia seutuhnya melalui sikap dan nilai.
"Pendidikan karakter adalah jiwa pendidikan. Guru yang berkarakter akan melahirkan generasi yang berkarakter pula," tuturnya.
Optimisme juga terpancar dari para peserta, salah satunya Mohammad Syaiful Bahri. Alumni STKIP PGRI Bangkalan ini memilih Unesa karena reputasinya sebagai kampus pendidikan yang unggul. "Harapan saya, melalui program ini saya bisa belajar maksimal agar ke depan dapat mengajar secara profesional," ungkap mahasiswa prodi Pendidikan Olahraga tersebut.][
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Diklat Orientasi Akademik PPG Calon Guru Unesa Pastikan Lulusan Memiliki Kualitas dan Berintegritas
30 January 2026

