29 June 2026


Unesa.ac.id. SURABAYA—Satriyo Imam Arifin Wahono, mahasiswa Program Studi S-1 Sistem Informasi Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), kembali mengharumkan nama kampus di kancah internasional. Berkolaborasi dengan Muhammad Zulfan Fahmi dan Muhammad Raihan Ghani dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), tim ini sukses meraih posisi runner-up dalam ajang MAJU:ON Green Start-up Program 2026.
Kompetisi inovasi dan kewirausahaan hijau berskala internasional tersebut diselenggarakan SK Innovation E&S Korea Selatan di Jakarta pada Mei 2026 lalu. Dalam ajang bergengsi tersebut, tim kolaborasi ini mengusung inovasi bertajuk "Transformasi Budidaya Jamur Tiram Berkelanjutan melalui Integrasi AI dan IoT untuk Mendukung Efisiensi Produksi dan Kemandirian Pangan."
Karya ini dirancang sebagai solusi berbasis teknologi modern untuk mengatasi masalah penurunan kualitas dan produktivitas budidaya jamur tiram di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa inovasi tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi pangan nasional. Indonesia yang dulunya sempat menduduki peringkat lima besar negara pengekspor jamur di dunia, saat ini justru berbalik menjadi negara pengimpor.
Menurut analisis tim, akar masalah utamanya terletak pada sulitnya menjaga stabilitas lingkungan kumbung (rumah jamur). Jamur tiram memerlukan tingkat suhu, kelembapan, dan kondisi udara yang sangat optimal agar dapat tumbuh dengan kualitas baik.
“Selain itu, kondisi cuaca di Indonesia yang semakin tidak menentu juga menjadi tantangan tersendiri bagi para petani," ujar mahasiswa angkatan 2022 tersebut mengenai latar belakang risetnya.
Berangkat dari persoalan lapangan itu, Satriyo dan tim mengembangkan sistem otomasi yang mengintegrasikan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan Internet of Things (IoT) untuk mengendalikan kondisi kumbung secara otomatis.
Perangkat ini memanfaatkan sensor khusus untuk mendeteksi suhu, kelembapan, serta kadar karbon dioksida ($CO_2$) yang terhubung langsung dengan peladen (server).
Data riil yang diperoleh dari sensor kemudian dianalisis oleh AI untuk memerintahkan tindakan penyelamatan, seperti mengaktifkan penyemprot air (sprayer), kipas angin, maupun exhaust fan agar kondisi ruangan tetap ideal.
Penggunaan AI membuat sistem ini mampu mengambil keputusan secara jauh lebih presisi dibandingkan metode konvensional. Alat ini bahkan dibekali kemampuan untuk menganalisis pola pertumbuhan jamur, mendeteksi potensi risiko gagal panen sejak dini, hingga memprediksi waktu panen yang akurat agar petani dapat menyusun perencanaan distribusi bisnis dengan lebih matang.
Ke depan, Satriyo berharap inovasi kumbung pintar ini dapat terus dikembangkan dan diimplementasikan secara lebih luas di berbagai pelosok daerah. Langkah ini diharapkan mampu membantu mendongkrak kesejahteraan petani lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di era transformasi digital. ][
***
Reporter: Mochammad Ja'far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Dokumentasi: Satriyo Imam Arifin Wahono