Unesa.ac.id, SURABAYA—Pendidikan kejuruan di Indonesia kini menghadapi tantangan besar untuk bergeser dari orientasi skill for job menuju skill for career and adaptability. Hal tersebut ditegaskan guru besar Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Yunus, M.Pd., dalam pidato pengukuhan guru besarnya yang berjudul “Urgensi Inovasi Pembelajaran Teknik Pengelasan dalam Menjawab Tantangan Pendidikan Kejuruan Abad ke-21” di Graha Sawunggaling Unesa, awal Februari 2026 lalu.
Dalam paparannya, ia menekankan bahwa dunia industri modern tidak lagi hanya membutuhkan operator yang patuh pada instruksi, melainkan individu yang mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah secara kontekstual. Pendidikan kejuruan abad ke-21 menuntut lulusan untuk memiliki keseimbangan antara keterampilan teknis (how to do) dengan kemampuan berpikir (how to think) serta kemampuan bekerja sama (how to work with others).
"Integrasi antara teori dan praktik tidak cukup dilakukan secara linier. Peserta didik harus memahami rasionalitas di balik setiap prosedur kerja, mampu mengambil keputusan teknis yang tepat, serta menyadari implikasi keselamatan dan efisiensi dalam dunia kerja," ujar Guru Besar Inovasi Pembelajaran Teknik Pengelasan FT Unesa itu.
Guna menjawab tantangan tersebut, penguatan keterampilan abad ke-21 yang mencakup Critical Thinking, Creativity, Communication, dan Collaboration (4C) harus menjadi bagian yang melekat dalam desain pembelajaran SMK. Ia memperingatkan bahwa keterampilan teknis tanpa dukungan kemampuan 4C berpotensi menghasilkan lulusan yang rentan terhadap perubahan teknologi dan dinamika industri yang sangat cepat.
Sebagai solusi konkret, ia memaparkan inovasi pembelajaran pada bidang teknik pengelasan, khususnya Shielded Metal Arc Welding (SMAW). Mengingat teknik pengelasan memiliki risiko keselamatan yang tinggi dan prosedur yang kompleks, inovasi tidak hanya dimaknai sebagai adopsi teknologi, tetapi sebagai upaya sistematis untuk merancang pengalaman belajar yang relevan.
Salah satu inovasi strategis yang ditawarkan adalah pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR). Penggunaan modul berbasis AR yang dilengkapi simulasi animasi 3D terbukti mampu meningkatkan pemahaman konsep dan kesiapan praktik peserta didik secara signifikan dibandingkan metode konvensional. Melalui teknologi ini, siswa dapat menganalisis kesalahan teknik secara reflektif sebelum terjun langsung ke praktik nyata di bengkel.
Penerapan teknologi AR ini juga mendukung pembelajaran berdiferensiasi, di mana peserta didik dapat mengulang simulasi sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Hal ini tidak hanya meningkatkan efektivitas kognitif dan psikomotorik, tetapi juga menumbuhkan kemandirian serta tanggung jawab terhadap proses belajar.
Di akhir pidatonya, ia menegaskan bahwa keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada peran guru. Guru SMK di abad ke-21 tidak boleh lagi hanya berperan sebagai instruktur bengkel, tetapi harus berkembang menjadi designer of learning yang mampu merancang pengalaman belajar bermakna, kontekstual, dan mampu menjembatani kesenjangan antara dunia sekolah dengan dunia kerja modern. []
***
Reporter: Ja'far
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Pakar Unesa Tekankan Pentingnya Inovasi Pembelajaran SMK untuk Menyiapkan Lulusan yang Adaptif dan Inovatif
09 March 2026

