03 May 2026


Dr. Ir. Dadang Supriyatno, M.T., Dosen Prodi D4 Transportasi Fakultas Vokasi (FV), Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Unesa.ac.id., SURABAYA–Rangkaian kecelakaan perkeretaapian yang terjadi antara KA Argo Bromo Anggrek dan rangkaian KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026 lalu menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Dosen Prodi D4 Transportasi Fakultas Vokasi (FV), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dadang Supriyatno menilai insiden tersebut perlu dilihat secara komprehensif dari perspektif sistem keselamatan perkeretaapian.
Ia menegaskan bahwa sistem perkeretaapian Indonesia sejatinya telah dilengkapi teknologi persinyalan yang berfungsi mengatur pergerakan kereta guna mencegah tabrakan serta menjamin keselamatan perjalanan.
“Secara sistem, kita sudah menggunakan persinyalan berbasis blok tetap (fixed block), di mana jalur dibagi dalam segmen-segmen. Kereta hanya boleh masuk pada satu segmen tertentu untuk menghindari konflik perjalanan,” jelas Dadang yang juga sebagai Ketua DPD Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA) Jawa Timur itu.
Namun, menurutnya, kecelakaan tersebut tidak dapat dilihat dari satu variabel tunggal. Insiden bermula dari gangguan di perlintasan sebidang yang melibatkan kendaraan, yang kemudian berdampak pada posisi rangkaian KRL di jalur rel.
“Kejadian ini bukan semata-mata satu faktor, tetapi rangkaian kondisi yang saling berkaitan. Ada gangguan di perlintasan, lalu posisi rangkaian kereta yang tidak sepenuhnya keluar dari segmen, hingga akhirnya memengaruhi operasional di jalur lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam kondisi normal, sistem persinyalan seharusnya memberikan sinyal berhenti (merah) apabila terdapat rintang di jalur. Namun dalam kasus ini, indikasi sinyal yang tetap menunjukkan aman menjadi salah satu aspek yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Lebih lanjut, Dadang menyoroti bahwa peningkatan kapasitas jalur, seperti penerapan double track, seharusnya diikuti dengan penguatan sistem keselamatan. Menurutnya, sistem blok tetap masih relevan, tetapi perlu didukung teknologi tambahan.
Pengampu mata kuliah Geometrik Jalan Raya dan Rel itu menambahkan bahwa ke depan perlu dipertimbangkan penerapan sistem seperti automatic train protection atau ATP yang mampu memberikan perlindungan tambahan ketika terjadi potensi kesalahan maupun gangguan pada sistem persinyalan.
Ia menilai, teknologi tersebut mampu memberikan peringatan dini hingga melakukan pengereman otomatis dalam situasi darurat, sehingga risiko kecelakaan dapat diminimalkan.
Dari sisi kebijakan, Dadang menekankan pentingnya implementasi Sistem Manajemen Keselamatan Perkeretaapian (SMKP) yang dijalankan secara konsisten oleh operator, serta diawasi melalui audit berkala oleh pemerintah.
“Operator dan regulator harus memastikan seluruh sarana dan prasarana dalam kondisi baik dan adaptif terhadap peningkatan kapasitas lintas. Audit keselamatan harus dilakukan secara periodik untuk mendeteksi potensi risiko sejak dini,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya investigasi menyeluruh terhadap kejadian ini, tidak hanya untuk menemukan penyebab, tetapi juga sebagai dasar evaluasi sistem yang lebih luas.
“Pelajaran utama dari kejadian ini adalah perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang ada, termasuk modernisasi peralatan dan integrasi teknologi keselamatan yang lebih maju,” pungkasnya.
***
Reporter: Mochammad Ja'far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Dok: Dadang Supriyatno